Revolusi Iran 1979 membangkitkan semangat kaum Muslim di berbagai negara seluruh dunia. Mereka ingin mewujudkan revolusi yang sama di negara masing-masing.
Revolusi Iran menyadarkan kaum Muslim di seluruh dunia bahwa pasca kolonialisme, Islam masih dapat menjadi senjata ampuh untuk melakukan perlawanan terhadap sebuah rezim zalin dalam sebuah negara-bangsa. Revolusi Islam Iran menghidupkan kembali imajinasi dan semangat yang pernah padam selama beberapa abad kolonalisme: bahwa ternyata Islam bukan hanya sebuah ritual ibadah, tetapi juga sebuah sistem politik.
Perlu di ingat bahwa Amien Rais sendiri tertarik untuk mengadopsi Revolusi Iran untuk menumbangkan Suharto. Dia sempat menterjemahkan buku Ali Syariati dengan tujuan membangkitkan semangat cendikiawan Muslim di Indonesia untuk mendayagunakan Islam sebagai energi revolusi sistem pemerintahan.
Awalnya pemerintah di negara-negara Muslim tidak merespon semangat ini. Hingga mereka menyadari bahwa bila dibiarkan maka akan membuat sang penguasa tumbang sebagaimana nasib Shah Reza di Iran.
Amerika mengingatkan penguasa yang sedang berkuasa di negara-negara Muslim bahwa bila tidak merespon semangat Revolusi Iran yang sedang membara pada diri setiap Muslim, maka mereka semua akan ditumbangkan.
Amerika akan sangat rugi bila revolusi ala Iran terwujud di negara-negara Muslim lainnya. Agenda-agenda mereka tentu akan macet dan bahkan berhenti.
Atas dukungan Amerika maka para penguasa di negara-negara Muslim berhasil membuat sebuah opera dalam rangka memadamkan semangat Revolusi Iran. Jantungnya adalah dengan mempropagandakan bahwa Iran itu Syia'ah, Syi'ah itu sesat. Agenda ini berhasil. Sentimentil aliran dalam Islam ternyata dapat menjadi titik lemat ummat. Sehingga setelah itu Syi'ah selalu dipandang dengan konotasi negatif.
Di Aceh sendiri, sebelum Revolusi Iran, tidak ada ulama yang berani mengatakan Syi'ah itu sesat. Tetapi hari ini, kalau ada ulama yang berani mengatakan Syi'ah itu tidak sesat, maka dia akan dituduh sesat dan dipensiunkan sebagai ulama.
Di Aceh, Orde Baru sejak 1986 memang sudah sangat gencar melakukan pendekatan dengan ulama. Dan mereka berhasil. Keberhasilan yang lebih luas bagi Orde Baru adalah berhasil menghidupkan gerakan tarbiyah di Indonesia. Gerakan ini adalah sebuah obat bius untuk memadamkan semangat Revolusi Iran. Akhirnya pada 1989, gerakan tarbiyah menjadi sangat besar di Indonesia.
Banyak kaum agama kelas menengah dan yang berada dinpemerintahan yang kepincut dengan ideologi ajaran ini. Masyarakat bawah juga. Prinsip ajaran ini yang ortodoks dan literalistik membuat pemahaman atas agama menjadi tidak utuh. Kualitas tidak menjadi prioritas. Yang penting banyak tahu dan banyak amal. Tidak dipedulikan bagaimana memahami secara menyeluruh suatu persoalan. Singkatnya gareka tarbiyah menawarkan sebuah pemahaman agama yang instan.
Pada saat itu pemerintah tidak peduli dengan resikonya. Yang penting semangat Revolusi Iran sudah padam. Namun ternyata gerakan ini menjadi semakin subur di Indonesia. Prinsip pengenalan agama yang literalistik telah membuat pengikutnya berpikir pragmatis. Pola demikian membuat kepala para pengikutnya melakukan pemberontakan terhadap nilai-nilai yang tidak mengususng emblem Islam. Pancasila adalah sasaran utama. Doktrin yang berhukum selain dengan hukum Islam adalah kafir menyerap hingga sum-sum.
Semangat itulah yang menyebabkan ledakan di mana-mana. Bagi mereka Indonesia adalah negara tidak Islam, itu artinya negara kafir yang harus dimusnahkan. Pancasila menurut mereka adalah taghut, harus dihapuskan.
Semua organisasi Islam modern punya potensi menggiring anggotanya kepada radikalisme. Pembelajaran di madrasah juga demikian. Kenapa? Karena di sana, agama diajarkan secara instan. Tetapi di pesantren tradisional atau dayah, tidak. Kenapa? Karena mereka belajar agama dengan sabar, berlahan dan dengan bimbingan, sehingga mereka memahami persoalan-persoalan dalam agama secara utuh, tuntas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar